Kedelai Bisa Serumah Dengan Ke

Tanggal : 03 July 2019, Kategori : Berita 171x


Tumpang sari dengan menanam kedelai di lahan kebun sawit bisa dilakukan di sejumlah daerah termasuk di Provinsi Kalimantan Timur, untuk meningkatkan produksi kedelai.

"Berdasarkan angka ramalan BPS, pada 2011 produksi kedelai Kaltim 2,84 ribu ton biji kering. Jika dioptimalkan dan melakukan tumpang sari dengan sawit, maka produksinya bisa mencapai 1,29 juta," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim Syachrumsyah Asri di Samarinda, Senin (27/6/2011).

Dilanjutkan, tumpang sari atau integrasi sangat mungkin dipadukan dengan program sejuta hektar sawit Kaltim yang saat ini mencapai 650.000 hektar sawit. Diprediksi 20 persen di antara lahan sawit itu masih berusia di bawah 3 tahun.

Kedelai bisa diintegrasikan dengan perkebunan kelapa sawit, khususnya sawit dengan usia tanam yang masih di bawah 3 tahun karena daunnya belum terlalu lebat dan akarnya belum banyak.

Dia memprediksi, luas potensial lahan kedelai yang bisa ditanam di lahan sawit sekitar 130.000 hektare. Potensi lainnya berada di daerah Talisayan, Berau dan Bulungan yang masing-masing dengan perkiraan luas 125.000 hektare dan 40.000 hektar.

Dari perhitungan 20 persen dari lahan sawit yang ada tersebut, setidaknya sudah ada sekitar 215.000 hektar lahan yang potensial dikembangkan. Usia tanam kedelai yang diperlukan hingga panen sekitar 80 hari.

Dari luasan itu, jika diasumsikan setiap hektare bisa menghasilkan 3 ton kedelai, maka Kaltim akan mensuplai kedelai nasional sekitar 645.000 ton sekali panen, atau 1,29 juta ton per tahun.

Penanaman kedelai sangat potensial secara ekonomi. Berbagai jenis kedelai paling gampang ditanam karena sejenis tanaman perdu, asal tanahnya berkapur dipastikan hasilnya baik.

Berbagai varietas kedelai yang telah diuji coba pada ajang demonstrasi plot (demplot) Penas XIII di Tenggarong beberapa hari lalu menunjukkan, bahwa berbagai varietas kedelai hasilnya sangat memuaskan dikembangkan di Kaltim.

Beberapa jenis kedelai jenis Anjasmoro, Grobogan, Arjuno dan Wilis bisa menghasilkan 2 - 3 ton per hektare, sedangkan Kaltim memiliki potensi lahan yang masih terbuka untuk pengembangan komoditas kedelai.

Apalagi pembiayaan penanaman kedelai tidak terlalu mahal, hanya sekitar Rp 3 juta per hektar. Dengan asumsi harga kedelai Rp 7 ribu per kilogram, maka pendapatan petani bisa mencapai Rp 21 juta per hektar.

"Kebutuhan kedelai Indonesia saat ini mencapai 2,1 juta ton per tahun, sedangkan produksi nasional hanya 650.000 ton per tahun. Artinya, baru sekitar 30 persen kebutuhan nasional yang dipenuhi produksi kedelai dalam negeri, sehingga Kaltim berpotensial mengembangkannya," ujarnya.

 

Sumber : kompas.com


Artikel Terbaru