Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model Discovery Learning Untuk Melatih Literasi Sains Siswa Kelas Xi Smk-Spp Negeri Samarinda Oleh Rosdiana, S.,Si.,M.Pd,

Tanggal : 15 December 2020, Kategori : Artikel Pendidikan 205x


PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MELATIH LITERASI SAINS SISWA KELAS XI SMK-SPP NEGERI SAMARINDA

 

Learning Document Development using Discovery Learning Model To Train Science Literacy in Grade XI Student of SMK-SPP Negeri Samarinda

 

Rosdiana

 

Guru SMK-SPP Negeri Samarinda
Alamat korespondensi:
SMK-SPP Negeri Samarinda
Jl. Thoyib Hadiwijaya Sempaja, Samarinda Telp: (0541) 251021/ Faks : 0541) 251387
E-mail: rosdiana.smkspp@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk (1)menghasilkan perangkat pembelajaran model discovery learning untuk melatih literasi sains siswa kelas XI SMK-SPP Negeri Samarinda (2) mendeskripsikan kevalidan perangkat pembelajaran (3) mendeskripsikan ketermanfaatan penggunaan perangkat pembelajaran (4) mendeskripsikan efektivitas perangkat pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, dilaksanakan dengan mengacu pada tahapan penelitian dan pengembangan model 4D, meliputi : Define, Design, Develope, Diseminate, yang dikemukakan oleh Thiagarajan (1974). Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan terdiri dari : Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Handout, LKS, Media Pembelajaran dan Instrumen penilaian. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran dinyatakan sangat valid dengan nilai rata-rata 87,49 % berdasarkan hasil validasi ahli pada aspek materi dan pembelajaran, teknologi pembelajaran dan bahasa. Perangkat pembelajaran dinyatakan memiliki ketermanfaatan tinggi dan mendapat respon positif siswa sebesar 84,33 %. Penggunaan perangkat pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran berdasarkan hasil uji independent sampel t-test nilai signifikansi (2-tailed) (0,002 < 0,05).

Kata kunci : pengembangan, perangkat pembelajaran, model discovery, efektivitas, literasi sains

Abstract

The purposes of the research are (1) to produce learning documents on discovery learning model to train science literacy of grade XI students of SMK-SPP Negeri Samarinda (2) to describe the validity of learning documents (3) to describe the use of learning documents (4) to describe the effectiveness of learning documentss on the result of students learning. This is a development research, carried out with the stages of 4D models, which are Defining, Designing, Developing, Diseminating, by Thiagarajan (1974). The learning documents that have been developed consist of : Syllabus, Plan implementation of learning, Handout, Student worksheet, Media of learning and assessment instrument. From the research, it is found the learning documents are valid with the value of 87.49%, which is the average of material and learning, learning of technology and aspect of language. The other finding is the learning documents are in a high usability and have a positive response from students with the value of 84.33%. The last finding is the use of learning documents can improve the effectiveness of learning based on the result significance value of independent sample t- test (2-tailed) (0.002 <0.05).

Keywords: development, learning document, discovery model, effectiveness, science literacy

PENDAHULUAN

     Proses pembelajaran tidak terlepas dari perangkat pembelajaran, karena merupakan hal yang penting untuk disiapkan sejak dini sebelum proses pembelajaran dilakukan. Rohli, M., dkk (2015) menyatakan bahwa perangkat pembelajaran adalah perlengkapan berupa sekumpulan media atau sarana yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai petunjuk dan pedoman dalam proses pembelajaran, untuk menjadikan proses pembelajaran lebih efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Menurut Devi, P.K., dkk (2009) bahwa setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran yang berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif.

     Zuriyani (2012) mengungkapkan bahwa belajar dengan penekanan pada proses sains dipandang lebih memberi bekal kemampuan pada siswa, seperti melakukan observasi, bereksperimen dan inquiri. Relevan dengan Kebijakan kurikulum pendidikan sains sekolah menengah juga memberi perhatian besar terhadap literasi sains (Depdiknas, 2007).

   Literasi sains (melek sains) merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk menggambarkan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan fakta-fakta sains. Sedangkan menurut Gbamanja (1999) dalam Adolphus, Telima, Arokoyu (2012) mendefinisikan literasi sains sebagai "pengetahuan dan pemahaman tentang peristiwa dan kejadian di lingkungan".

     Literasi sains didefinisikan PISA (Programme for International Student Assessment) sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia (Zuriyani, 2012). PISA adalah studi literasi yang bertujuan untuk meneliti secara berkala tentang kemampuan peserta didik usia 15 tahun dalam membaca (reading literacy), matematika (matematis literacy), dan sains (scientific literacy). Data hasil tes PISA yang dilakukan oleh OECD (Organization Economic Cooperation and Development) tahun 2012 menetapkan Indonesia sebagai peringkat ke-64 dari 65 peserta dengan skor 382 pada tes bidang sains dengan skor standar 500. Data Badan Penelitian dan Pengembangan (2015) juga menunjukkan hasil yang hampir sama, Indonesia masih menduduki peringkat bawah. Peringkat Indonesia dari berbagai penilaian ini bisa mencerminkan bagaimana sistem pendidikan Indonesia yang sedang berjalan saat ini (Zuriyani, 2012). Guru sebagai salah satu yang bertanggung jawab atas pendidikan, maka perlu mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pengukuran literasi sains (Pantiwati dan Husamah, 2015).

     Definisi literasi sains PISA dalam OECD (2012) dapat dicirikan oleh empat aspek yaitu : 1) aspek konteks mengarahkan peserta didik untuk dapat mengenali situasi dalam kehidupan yang melibatkan sains dan teknologi. 2) aspek pengetahuan mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami alam atas dasar pengetahuan tentang sains. 3) aspek kompetensi dalam literasi sains meliputi : peserta didik dapat mengidentifikasi isu ilmiah, menjelaskan fenomena ilmiah dan menggunakan bukti-bukti ilmiah. 4) aspek sikap sains menunjukkan minat dalam ilmu pengetahuan, dukungan untuk penyelidikan ilmiah, dan motivasi untuk bertindak secara bertanggung jawab.

     Kegiatan observasi dilakukan bertujuan untuk mengetahui sejauhmana pengintegrasian literasi sains pada peserta didik dalam pembelajaran biologi. Dalam hal ini, literasi sains (scientific literacy) dicirikan oleh empat aspek, yaitu : konteks, pengetahuan, kompetensi dan proses. Hasilnya menunjukkan bahwa secara konteks, proses pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk dapat mengenali situasi dalam kehidupan yang melibatkan sains dan teknologi sebesar 45,2 %. Aspek pengetahuan meliputi keterlibatan peserta didik untuk dapat memahami alam atas dasar pengetahuan tentang sains adalah 12,3 %. Aspek kompetensi dalam literasi adalah kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi isu ilmiah, menjelaskan fenomena ilmiah dan menggunakan bukti-bukti ilmiah diperoleh hasil 35 %. Aspek sikap sains menunjukkan minat siswa dalam ilmu pengetahuan, dukungan untuk penyelidikan ilmiah, dan motivasi untuk bertindak secara bertanggung jawab adalah 7,6 %). Faktanya bahwa siswa menjadikan sains hanya sebagai teori belajar dan kurang dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang turut berpengaruh pada rendahnya pengetahuan sains, kompetensi serta sikap yang dimiliki. Secara umum hal ini terlihat dari 59,6 % hasil belajar siswa masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

     Penguasaan literasi sains sangat terkait dengan proses pembelajaran. Jika diamati belum semua siswa mampu mengemukakan pertanyaan ketika pelajaran berlangsung ataupun ketika tidak memahami materi pelajaran. Secara khusus dalam bereksplorasi atau memberikan tanggapan dalam bentuk fakta, bukti atau pemecahan terhadap suatu masalah masih kurang dilakukan. Pantiwati dan Husamah (2015) berpendapat bahwa hal ini karena kurangnya keterlibatan siswa dan kurangnya penekanan guru terhadap keterkaitan antara konsep-konsep biologi dan lingkungan riil.

     Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penerapan strategi-strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan literasi sains siswa. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang tepat. Relevan dengan yang dikemukakan oleh Kemendikbud (2013) bahwa pembelajaran dengan menggunakan model discovery menekankan pada pembelajaran siswa aktif dalam menemukan konsep. Di dalam discovery learning siswa didorong untuk belajar sendiri secara mandiri. Penggunaan model discovery learning ingin mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented yaitu melalui discovery untuk menemukan informasi sendiri.

     Berdasarkan uraian dalam latar belakang, peneliti mencoba mengintegrasikan literasi sains dalam pembelajaran biologi dengan menerapkan model discovery learning. Relevan dengan inisiasi pemerintah pada tahun 2017 untuk menumbuhkembangkan Gerakan Literasi Nasional melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Termasuk didalamnya adalah literasi sains. Untuk mewujudkan hal ini sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan mempunyai peran yang penting. Penelitian dan pengembangan pembelajaran akan dilakukan pada siswa kelas XI di SMK-SPP Negeri Samarinda pada pokok bahasan ekosistem. Dengan didukung potensi lingkungan sekolah pertanian diharapkan dapat memberi kemudahan dalam melakukan pengamatan ekosistem. Pada hakikatnya pembelajaran yang melibatkan lingkungan sebagai objek belajar dapat memberikan pengalaman nyata dan langsung kepada siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menghasilkan perangkat pembelajaran model discovery learning untuk melatih literasi sains siswa kelas XI SMK-SPP Negeri Samarinda (2) mendeskripsikan kevalidan perangkat pembelajaran (3) mendeskripsikan ketermanfaatan penggunaan perangkat pembelajaran (4) mendeskripsikan efektivitas perangkat pembelajaran terhadap hasil belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian
    
Penelitian ini dilakukan di SMK-SPP Negeri Samarinda pada Bulan April sampai dengan Oktober 2017.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data
     Jenis data yang diperoleh dari penelitian dan pengembangan ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data-data tersebut terdiri dari : data dari analisis kebutuhan, data kevalidan instrumen perangkat, data kepraktisan perangkat pembelajaran, data efektivitas pembelajaran dari data observasi terhadap penilaian hasil belajar siswa dan literasi siswa. Subjek penelitian adalah 75 orang siswa terdiri dari 15 orang siswa pada ujicoba terbatas dan 60 orang siswa pada uji lapangan luas.

Teknik Analisis Data
     Teknik analisis data dilakukan untuk menilai kevalidan, kepraktisan dan efektivitas perangkat pembelajaran. Penilaian kevalidan perangkat pembelajaran dilakukan dari validasi ahli materi dan pembelajaran, ahli media dan ahli bahasa. Data ini berupa skala penilaian yang terdiri dari empat skala penilaian, yaitu sangat valid, valid, kurang valid dan tidak valid. Selanjutnya hasil yang diperoleh dikonversi dengan tabel kriteria kualitatif kevalidan perangkat.

Tabel 1. Kriteria Kualitatif Uji Kevalidan Perangkat

          Rentang Persentase

                           Kriteria kualitatif

          82 - 100 %

          63 - 81 %

          44 - 62 %

          25 - 43 %

                             Sangat valid

 

                                  Valid

 

                             Kurang valid

 

                              Tidak valid

                             Sumber : Adaptasi dari Sudjana (2005) dalam Rosginasari (2014)

     Kepraktisan perangkat pembelajaran diperoleh dari angket respon pada siswa terhadap perangkat yang telah dikembangkan dan diujicobakan melalui proses pembelajaran di sekolah, yaitu : LKS, hand out dan media pembelajaran. Tanggapan siswa terdiri dari : STS (Sangat Tidak Setuju), SS (Sangat setuju), S (Setuju) dan TS (Tidak Setuju). Kemudian mengkonversi skor yang diperoleh menjadi kriteria kualitatif kepraktisan perangkat.

Tabel 2. Kriteria Kualitatif Uji Kepraktisan Perangkat

 

           Rentang Persentase

                 Kriteria kualitatif

              81 - 90 %

              71 - 80 %

              61 - 70 %

              50 - 60 %

                  Sangat Praktis 

 

                      Praktis

 

                  Kurang Praktis

 

                  Tidak Praktis

 

Sumber : Adaptasi dari Sudjana (2005) dalam Rosginasari (2014)

HASIL PENELITIAN

Perangkat pembelajaran model discovery learning

     Perangkat pembelajaran dikembangkan terdiri dari : Silabus, RPP, Handout, LKS, Media pembelajaran dan Instrumen penilaian.

     Berdasarkan silabus yang telah ditetapkan, selanjutnya guru mengembangkan menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menurut Rauf, A.W. (2009) RPP sangat dibutuhkan oleh guru dan membantu guru untuk berlaku secara profesional. Lebih lanjut, Anitah,S., dkk (2013) menyatakan bahwa dalam membuat perencanaan pembelajaran yang baik guru harus mampu menentukan dan memilih materi yang sesuai, media yang tepat, metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta alat evaluasi yang tepat berlandaskan pada silabus yang telah ditetapkan.

     Pengembangan handout mencakup pada bagian isi, yaitu terdiri dari uraian materi pokok yang diperoleh dari berbagai sumber rujukan. dilengkapi informasi pendukung, petunjuk penggunaan, peta konsep, latihan soal, glosarium dan daftar rujukan atau referensi. Desain tampilan handout dibuat menarik dilengkapi gambar-gambar berwarna sehingga dapat menambah semangat siswa dalam belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memberikan respon positif pada handout, terbukti dengan penggunaan handout dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

     Secara umum komponen-komponen LKS yang dikembangkan terdiri dari judul, KD, Indikator, Tujuan Pembelajaran, Alat dan Bahan serta Langkah Kerja Kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa. Hasil penggunaan LKS menunjukkan ada peningkatan hasil belajar siswa. Relevan dengan pendapat Rahmadani (2016) bahwa penyusunan LKS sebaiknya menggunakan model atau strategi yang sesuai dengan kondisi siswa sehingga memudahkan siswa dalam menggunakannya.

     Pengembangan media pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekolah. SMK-SPP Negeri Samarinda merupakan sekolah kejuruan dengan kompetensi keahlian di bidang pertanian, memiliki potensi lingkungan sekolah luas dan bervariasi dalam berbagai jenis tanaman. Hal ini mendorong peneliti untuk menjadikan lingkungan sekolah sebagai media dan sumber belajar pada materi ekosistem. Media yang dikembangkan adalah video berdurasi pendek dan pengambilan video dilakukan di ekosistem lingkungan sekolah meliputi beberapa lokasi yaitu lahan praktik siswa dan taman sekolah.

     Produk hasil pengembangan selanjutnya adalah instrumen penilaian. Jenis penilaian yang dikembangkan pada penelitian ini adalah penilaian tertulis, penilaian kinerja penilaian produk dan penilaian sikap. Keempat jenis penilaian tersebut dapat menggambarkan penilaian pada aspek kognitif, psikomotorik dan afektif.

Validitas Perangkat Pembelajaran
     Perangkat pembelajaran kemudian divalidasi oleh 3 orang validator yang terdiri dari : ahli materi dan pembelajaran, ahli teknologi pembelajaran dan ahli bahasa untuk mengetahui kevalidan perangkat pembelajaran. Hasil tersebut akan menjadi pedoman dalam melakukan revisi. (Hasil revisi terdapat pada tabel 4).

Tabel 4. Hasil Revisi Perangkat Pembelajaran

Jenis Perangkat

Sumber Revisi

Sebelum Revisi

Sesudah Revisi

 

RPP

 

Validasi ahli materi dan pembelajaran

 

RPP dibuat untuk 4 pertemuan

 

RPP dibuat masing- masing dalam setiap pertemuan

LKS 3

 

Validasi ahli Bahasa

 

Gambar kerusakan ekosistem  kurang jelas dan kurang

menarik

 

Gambar kerusakan ekosistem diganti dan ditambah gambar lain

yang menarik

Hand Out

Validasi ahli bahasa

Tampilan hand out kurang menarik, tidak disertai petunjuk,

latihan                          soal, glosarium

Penulisan                          pada beberapa bagian hand out ada yang tidak sesuai dengan Tata bahasa dan EYD. Disarankan untuk menggunakan jenis huruf times new roman

 

Sumber referensi

                                                               tidak ada dari jurnal   

Tampilan hand out lebih                     menarik, petunjuk belajar jelas, terdapat latihan soal dan glosrium

Penulisan disesuaikam dengan tata bahasa dan EYD. Jenis huruf arial diubah menjadi times new roman.

 

Sumber referensi dari jurnal

Media (video) Pembelajaran

Validasi ahli Teknologi Pembelajaran

 

Video tidak dilengkapi sumber referensi

 

Tampilan dan penayangan video mP4 diubah menjadi aplikasi autorun Kemasan cover video perlu ditambahkan KD dan Indikator

materi pembelajaran

 

Video dilengkapi alamat link sumber di youtube

 

Video ditampilkan dalam aplikasi autorun

 

Kemasan cover video telah ditambahkan KD

dan indikator

 

Sumber : Data primer, 2017

     Hasil validasi menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan telah memenuhi syarat kevalidan pada tiga aspek yaitu : materi dan pembelajaran, teknologi pembelajaran dan tata bahasa dengan nilai rata-rata 87,49 %. Hal ini menunjukkan bahwa perangkat yang yang dikembangkan sangat valid dan layak digunakan. (Hasil validasi terdapat pada Tabel 5).

 

Tabel 5. Hasil validasi Perangkat Pembelajaran

Validator Ahli

Total

Kriteria

 

Materi dan Pembelajaran Teknologi

Pembelajaran Bahasa

90,73 %

 

89,47 %

 

82,26 %

Sangat valid

Sangat valid

 

Sangat valid

Rata-rata

87,49 %

Sangat valid

 

Sumber : Data primer (2017)

Ketermanfaatan Penggunaan Perangkat Pembelajaran
     Kepraktisan pembelajaran diperoleh dari hasil penilaian 15 orang siswa pada ada ujicoba terbatas, nilai rata-rata kepraktisan sebesar 81,08 %. Selanjutnya pada uji lapangan luas hasilnya adalah 84,33 %. Berdasarkan kriteria kualitatif menunjukkan bahwa perangkat sangat praktis digunakan dalam pembelajaran.

 

Tabel 6. Hasil Penilaian dan Respon Siswa

Tahap

Rata-rata Respon

Kriteria

Ujicoba Terbatas

Uji Lapangan Luas

81,17 %

84,33 %

 

Sangat Praktis

 

Sangat Praktis

 

Sumber : Data primer (2017)

Berdasarkan hasil telaah atau respon guru terhadap perangkat pembelajaran, secara umum memberikan penilaian positif. Hasil penilaian guru antara lain adalah bahwa cakupan semua isi komponen perangkat sudah sesuai dengan materi ekosistem, langkah-langkah discovery learning sudah tergambar dalam RPP. Guru menilai bahwa LKS discovery learning yang dikembangkan sudah tepat untuk digunakan dalam pembelajaran. Penggunaan media dan handout juga dinilai sudah tepat untuk dapat mengefektifkan pembelajaran ekosistem. Cakupan evaluasi dan instrumen penilaian yang dikembangkan sudah sesuai dengan materi ekosistem. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan memiliki ketermanfaatan yang tinggi untuk dapat digunakan dalam pembelajaran ekosistem.

     Proses pembelajaran discovery dimaksudkan untuk mendorong dan melatih siswa dalam literasi sains. Ketercapaian pembelajaran literasi sains pada setiap aspek mudah dilakukan karena pembelajaran yang melibatkan lingkungan sebagai objek belajar yang dapat memberikan pengalaman nyata dan langsung kepada siswa. Dengan didukung lingkungan sekolah pertanian, dapat memudahkan dalam kegiatan pengamatan (observasi) ekosistem. Faktanya, kegiatan pembelajaran seperti ini membuat peserta didik bersemangat dibandingkan dengan pembelajaran di dalam kelas. Sebagaimana pendapat Jalil, M. (2016) bahwa “keefektifan pembelajaran model Discovery Learning terlihat pada aktivitas siswa. Siswa termotivasi dalam observasi ke lingkungan sekitar sekolah, aktif dalam mengumpulkan data pengamatan dan menjawab pertanyaan LKS”. Relevan dengan pendapat Widiadnyana, I., dkk (2014) bahwa model pembelajaran Discovery Learning berpengaruh terhadap pemahaman konsep IPA dan sikap ilmiah siswa.

Efektivitas Perangkat Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Siswa
     Berdasarkan hasil post-test ujicoba lapangan luas, selanjutnya dilakukan pengujian parametrik untuk mengetahui efektivitas pembelajaran. Uji parametrik yang digunakan adalah uji independent sampel t-test untuk mengetahui jika terdapat perbedaan rata-rata efektivitas pembelajaran pada kedua sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dasar pengambilan keputusan adalah : Jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Jika nilai Sig.(2-tailed) > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.. Pengujian dilakukan menggunakan SPSS statisctic 20. Hasil yang diperoleh ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 7. Hasil Uji Parametrik SPSS Statistic 20

No

Tahap

Nilai Sig.

Keterangan

1.

2.

 

3.

 

Uji Homogenitas

 

Uji Normalitas

 

 

Uji independent sampel t-test

0,053

0,655

0,106

0,002

 

Nilai Sig. > 0,05 : homogen

 

Nilai Sig. > 0,05 : terdistribusi

 

normal

 

Nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 : terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua sampel

 

 

Sumber : Data Primer, 2017

     Berdasarkan hasil uji homogenitas menunjukkan nilai signifikansi yaitu 0,053 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa data hasil post-test terdistribusi secara homogen. Dari hasil uji normalitas diperoleh nilai signifikansi pada kelas eksperimen 0,655 sedangkan pada kelas kontrol adalah 0,106. Berdasarkan hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa data pada kedua sampel adalah homogen dan terdistribusi normal. Selanjutnya dengan hasil ini dapat dilanjutkan dengan uji independent sampel t-test. Hasil pengujian diperoleh nilai signifikansi (2-tailed) 0,002 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitas pembelajaran secara signifikan antara kedua sampel yaitu kelas yang menggunakan perangkat yang telah dikembangkan dengan pembelajaran secara konvensional.

 

KESIMPULAN


     Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) Desain pengembangan perangkat pembelajaran model discovery learning untuk melatih literasi sains siswa SMK-SPP Negeri Samarinda terdiri dari : Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Handout, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), media dan Instrumen Penilaian. (2) Perangkat pembelajaran model discovery learning untuk melatih literasi sains siswa SMK-SPP Negeri Samarinda yang dikembangkan telah memenuhi kriteria sangat valid dengan persentase rata-rata penilaian dari validator yaitu : ahli materi dan pembelajaran, ahli teknologi pembelajaran dan ahli bahasa adalah 87,49 %. (3) Perangkat pembelajaran model discovery learning untuk melatih literasi sains siswa SMK-SPP Negeri Samarinda yang dikembangkan memiliki ketermanfaatan tinggi berdasarkan analisis respon siswa yaitu 87,49 %. Hasil tersebut ditunjang oleh hasil telaah atau respon guru yang memberikan penilaian positif terhadap ketermanfaatan perangkat pembelajaran. (4) Perangkat pembelajaran model discovery learning untuk melatih literasi sains siswa SMK-SPP Negeri Samarinda yang dikembangkan memiliki efektivitas yang tinggi untuk digunakan dalam pembelajaran berdasarkan nilai signifikansi (2-tailed) 0,002 < 0,05 hasil uji independent sampel t-test. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektifivas pembelajaran secara signifikan antara kelas yang menggunakan perangkat yang telah dikembangkan dengan pembelajaran secara konvensional.

 

SARAN


     Diharapkan guru dapat berperan dalam pengembangan produk lebih lanjut sesuai dengan karakteristik model discovery learning, dapat dilakukan pada materi dan kelas yang berbeda sebagai kelanjutan dalam melatih literasi sains siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Adolphus, Telima, Arokoyu. 2012. Improving Scientific Literacy among Secondary School    

             Students through Integration of Information and Communication Technology. Journal of

             Science and Technology. (VOL. 2, NO. 5)       

Anitah, S. and Haryanto, S., 2013, Pengaruh Pengetahuan KTSP dan Pendidikan Terhadap

             Kemampuan Menyusun RPP Guru SDN Jatiyoso Tahun 2011/2012. Teknologi

              Pendidikan, 1(2), pp.239-248.

Depdiknas.2007. Naskah Akademik kajian kebijakan Kurikulum mata Pelajaran IPA. Jakarta : Balitbang

             Depdiknas.

Devi, P.K.,dkk., 2012, Pegembangan Perangkat Pembelajaran, Pusat Pengembangan Pendidik

             dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) Bandung terdapat di

             https://mgmpmatsatapmalang.files.wordpress.com/2012/07/pengembanganperangkatsmp.pdf

Badan Penelitian dan Pengembangan. 2015. Survei Internasional PISA. (Online),

             (http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/surveiinternasional-pisa, diakses 11 September 2016

Jalil, M., dkk 2016. Pengembangan Pembelajaran Model Discovery Learning Berbantuan Tips

             Powerpoint Interaktif Pada Materi Interaksi Makhluk Hidup Dengan Lingkungan. Refleksi edukatika,

             6(2)

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2013, Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) hal 

            1-7

OECD, 2013, PISA 2009 Assessment Framework Key competencies in Reading, Mathematics and Science,

           OECD Publishing. https://eric.ed.gov/?id=ED523050

Pantiwati, Y. and Husamah, H., 2015. Pengelolaan Pembuatan Soal Berbasis Literasi Sains, 6 th Pedagogy

           International Seminar Proceeding, Bandung 15-17 September 2015

Programme for International Student Assesment (PISA) released Field Trial Cognitive Items, 2015, terdapat

         di https://www.oecd.org/.../PISA2015-Released-FT-Cognitive-Items.pdf diakses pada tanggal 15

         April 2017

Rahmadani, W.C., As’ari, A.R. and Rahardjo, S., 2016. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa Bercirikan

         Strategi Generatif Dengan Pembelajaran PMII Tipe Classwide Peer Tutoring. Jurnal Pendidikan: Teori,

         Penelitian, dan Pengembangan, 1(6), pp.1033-1041.

Rauf, A.W., 2009. Deskripsi Tentang Hambatan Guru dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan

         Pendidikan (KTSP) di SMA Negeri 4 Watampone. Jurnal Medtek, 1(1), pp.1-12.

Rohli, M., Abdurrahman, A. and Suana, W., 2015, Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu

         Berorientasi Literasi Sains pada Model Pembelajaran Exclusive. Jurnal Pembelajaran Fisika, 3(1).

Rosginasari, G.,2014, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Audiovisual Pada Pembelajaran Ekstraksi

        di SMKN 2 Indramayu (online), (repository.upi.edu), diakses 26 Maret 2017.

Thiagarajan, S., Semmel, D. S and Semmel, M. I. (1974), Instructional Development for Training Teachers

       of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/Special Education,

       University of Minnesota.

Widiadnyana I W., Sadia I W., Suastra I W., 2014, Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap

      Pemahaman Konsep IPA dan Sikap Ilmiah Siswa SMP, Program Studi Pendidikan IPA, Program 

      Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia.

Zuriyani, E., 2012. Literasi sains dan pendidikan. Tersedia di: http://sumsel. Kemenag. go. id/file

      /file/Tulisan/Wagi/343099486. pdf.[1 April 2016]. Diakses tanggal 20 Maret 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Terbaru